Beranda Tentang Akar Bangsa Visi & Misi Tokoh & Afiliasi Mimbar Bebas Orasi Posko Pengaduan Rakyat Kajian Isu Strategis Kontak Admin – Login Daftar Sekarang

NTB Jadi Cermin Indonesia: Budaya Nusantara sebagai Kekuatan Diplomasi dan Ekonomi di Pasar Global

Diterbitkan: Agustus 24, 2026 • Oleh: Admin

 

Khaerol Khatoni - PKC PMII Bali Nusra


Mataram, NTB — 24 Agustus 2026 — Di tengah dinamika dunia yang semakin terhubung, Indonesia menawarkan satu narasi yang sulit ditiru negara lain: keberagaman yang hidup rukun. Narasi itu paling nyata terasa di Nusa Tenggara Barat. Dalam opini terbarunya, M. Khaerol Khatoni menegaskan bahwa budaya Nusantara, khususnya yang tumbuh di NTB, layak dijadikan portofolio utama identitas Indonesia di pasar global.

NTB terdiri dari dua pulau besar, Lombok dan Sumbawa. Di atas tanah ini hidup beragam suku: Sasak, Mbojo, Samawa, Bali, Tionghoa, dan komunitas lain. Perbedaan bahasa, adat, dan keyakinan tidak menjadi sekat. Justru sebaliknya, selama berabad-abad masyarakat membangun pola hidup bertetangga yang penuh toleransi. Tempat ibadah berdiri berdekatan. Warga saling menjaga saat hari raya berbeda keyakinan. Tradisi saling bantu masih dijaga kuat dari desa ke desa.

Budaya sebagai Bahasa Diplomasi yang Efektif  

Khaerol menekankan bahwa budaya bukan sekadar hiasan pariwisata. Dalam konteks geopolitik dan ekonomi saat ini, budaya adalah instrumen diplomasi paling halus namun paling berdampak.  

"Ketika politik kadang menimbulkan sekat, budaya justru membuka pintu. Lewat seni, kuliner, kerajinan, dan cara kita hidup bersama, dunia jadi lebih percaya pada Indonesia," ujarnya.

Lombok hari ini telah menjadi salah satu destinasi wisata internasional. Wisatawan datang bukan hanya karena pantai dan alamnya, tetapi karena ingin merasakan keramahan dan cara hidup masyarakat yang menghargai perbedaan. Sementara di Sumbawa, semangat kebersamaan masih sangat kental. Warga bahu-membahu membangun rumah, membersihkan lingkungan, dan menyiapkan hajatan adat tanpa menghitung untung rugi pribadi.

Nilai Luhur yang Menjadi Pondasi Perdamaian  

Kekuatan NTB terletak pada kearifan lokal yang dijalankan sehari-hari. Masyarakat Sasak memegang teguh filosofi sopan santun, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan. Di Sumbawa tumbuh nilai kesusilaan yang mengajarkan untuk tidak merugikan orang lain dan selalu menjaga hubungan baik.

Gotong royong menjadi praktik nyata. Kesulitan satu warga dirasakan bersama. Kebahagiaan pun dirayakan bersama. Kesenian tradisional, tarian, dan upacara adat berfungsi sebagai ruang temu. Di sanalah anak muda, tokoh adat, dan warga dari berbagai latar belakang duduk bersama, menjaga benang persaudaraan agar tidak putus.

Dari Desa ke Pasar Dunia  

Khaerol menyoroti potensi ekonomi yang lahir dari budaya. Produk lokal NTB seperti tenun, kerajinan gerabah, ukiran kayu, hingga kuliner khas, kini memiliki nilai tambah besar ketika dikemas dengan cerita budaya. Pembeli internasional tidak hanya membeli barang, mereka membeli identitas dan nilai di baliknya.

Hal yang sama terjadi di sektor kreatif. Film, musik, seni pertunjukan, dan literatur dari Indonesia membawa pesan kedamaian dan keterbukaan. Jalur inilah yang membuat ekonomi kreatif Indonesia terus tumbuh dan membuka lapangan kerja baru, terutama bagi generasi muda.

Namun perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Di era digital dan pasar global, keaslian budaya harus dijaga. Kemasan, kualitas, dan cara distribusi perlu naik kelas agar sesuai standar industri internasional. Yang tidak kalah penting adalah perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Tanpa itu, warisan budaya lokal rawan dieksploitasi pihak luar tanpa manfaat kembali ke komunitas pemiliknya.

"Generasi muda harus jadi nahkoda. Mereka yang paham teknologi, paham pasar, dan paling tahu cara bercerita. Tugas kita memastikan mereka punya ruang dan alat untuk membuat narasi budaya Nusantara mendunia," kata Khaerol.

Menjaga Anugerah Keberagaman  

Di akhir opininya, Khaerol mengingatkan bahwa perbedaan adalah anugerah. Seperti pantai yang indah karena pertemuan laut dan daratan, NTB menjadi kuat karena keberagamannya yang menyatu.  

"Selama kita tetap memegang nilai saling menghormati, gotong royong, dan toleransi, maka NTB akan terus menjadi contoh. Dan ketika NTB damai, Indonesia punya bukti nyata untuk ditunjukkan ke dunia," tutupnya.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa untuk bersaing secara global, Indonesia tidak perlu meninggalkan jati dirinya. Justru dengan merawat akar budaya, Indonesia bisa tampil beda, dipercaya, dan dicintai dunia.